INFO PENTING
Rabu, 02 Juli 2025
Pak Bupati, Warga Cipatat Akan Datang Jika Surat Tak Juga Dibaca
Minggu, 08 Juni 2025
MOH YUZIANDI Al GHIFARI
Lahir di Bandung, 8 Februari 1994
Moh Yuziandi Al-Ghifari adalah sosok muda inspiratif asal Kabupaten Bandung Barat yang dikenal sebagai jurnalis independen, peneliti kajian Islam, aktivis organisasi, penceramah Jumat, serta tokoh muda yang aktif dalam kegiatan sosial dan komunitas. Ia merupakan pribadi yang menggabungkan intelektualitas, spiritualitas, dan kepedulian sosial dalam kiprah hidupnya.
🌿 Latar Belakang dan Pendidikan
Lahir dari keluarga pesantren pada 8 Februari 1994 di Bandung, Moh Yuziandi menghabiskan masa kecil dan remajanya di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat. Pendidikan dasarnya ia tempuh di SDN Rama 4 Rajamandala, lalu melanjutkan ke MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala untuk pendidikan menengah pertama, dan Madrasah Aliyah Rajamandala untuk tingkat atas.
Selepas itu, ia menimba ilmu di Universitas Islam Nusantara (UNINUS), tempat ia menyelesaikan studi sarjana (S1) dan magister (S2) dalam bidang studi keislaman. Kampus ini menjadi medan penting pembentukan intelektual dan spiritualnya, serta tempat awal dirinya bergelut dengan dunia literasi, organisasi, dan kajian pemikiran Islam kontemporer.
🕌 Akar Pesantren yang Kuat
Sebagai anak dari keluarga pesantren, Moh Yuziandi hidup dalam suasana religius yang kuat. Keluarganya mengelola dua pesantren:
- Pondok Pesantren Albanniyah at-Tijaniyah di Kabupaten Bandung Barat
- Pondok Pesantren Asyrofuddin di Kabupaten Sumedang
Dua lembaga ini bukan hanya pusat pendidikan keislaman, tapi juga menjadi tempat Yuziandi tumbuh, belajar, dan mulai berdakwah. Nilai-nilai sufistik dan ajaran tarekat pun mewarnai cara pandangnya yang moderat dan menyeluruh terhadap Islam dan masyarakat.
📰 Jurnalis dan Penulis yang Kritis
Sebagai jurnalis independen, Moh Yuziandi telah menulis ratusan artikel dan opini yang tersebar di berbagai media online dan kanal sosial. Ia kerap mengangkat isu-isu keumatan, sosial, dan budaya dengan gaya penulisan yang tajam namun tetap santun. Ia tidak hanya menulis dari balik meja, tetapi juga aktif turun ke lapangan, mewawancarai tokoh, menyelami persoalan masyarakat, dan menyuarakan kebenaran melalui tulisan.
Banyak pihak menjadikan tulisannya sebagai rujukan, karena ia dikenal berani, objektif, dan jernih dalam mengulas berbagai persoalan. Dalam dunia jurnalistik lokal dan nasional, ia dikenal sebagai salah satu penulis muda yang idealis, berintegritas, dan menjunjung tinggi etika dakwah bil-qalam (dakwah lewat tulisan).
🗣️ Penceramah Jumat yang Dicari dan Diperhatikan Media
Moh Yuziandi juga dikenal sebagai penceramah Jumat yang aktif mengisi khutbah di berbagai masjid besar di wilayah Bandung Barat dan sekitarnya. Gaya khutbahnya khas: mengangkat tema-tema aktual, menyentuh, membangun semangat jamaah, dan disampaikan dengan bahasa yang lugas namun dalam.
Khutbah-khutbahnya seringkali memadukan kearifan lokal, nilai-nilai Islam moderat, serta ajakan reflektif terhadap kondisi sosial saat ini. Tak heran, kehadirannya sebagai khatib Jumat mulai banyak mendapat perhatian, bahkan beberapa kali diliput oleh media lokal sebagai contoh penceramah muda yang memiliki kemampuan narasi yang kuat dan subtansi keilmuan yang tajam.
Jamaah dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh, pejabat lokal, hingga pemuda masjid, mengapresiasi pendekatan dakwahnya yang tidak menghakimi, melainkan mengajak berpikir, merenung, dan bertindak dengan kesadaran sosial.
🤝 Aktivis Organisasi dan Komunitas
Sejak mahasiswa, Yuziandi dikenal aktif dalam berbagai organisasi:
- PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
- HIMA (Himpunan Mahasiswa)
- SEMA (Senat Mahasiswa)
Di berbagai wadah tersebut, ia dikenal sebagai pemimpin muda yang vokal, cerdas, dan mampu menjembatani perbedaan. Tak hanya dalam dunia aktivisme kampus, ia juga merupakan pendiri komunitas otomotif:
- Yamaha NMAX Club Indonesia – Kabupaten Bandung Barat
- Yamaha XMAX Club – Kabupaten Bandung Barat
Langkahnya ini merupakan upaya untuk mendekatkan dakwah dan nilai-nilai kebersamaan kepada anak muda lewat hobi dan komunitas yang mereka cintai.
📌 Kiprah Sosial dan Perjuangan Masyarakat
Moh Yuziandi juga terlibat dalam berbagai gerakan sosial masyarakat. Ia dikenal sebagai figur muda yang berani menyuarakan suara warga, terutama dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hak publik, lingkungan, dan pembangunan daerah. Ia kerap tampil sebagai narasumber dalam forum-forum warga, pendamping lapangan, dan penyalur aspirasi masyarakat.
Dengan latar belakang pesantren, kemampuan menulis, dan keterampilan komunikasi yang baik, ia dipercaya oleh banyak pihak sebagai penghubung antara masyarakat dan pemangku kebijakan.
Penutup
Moh Yuziandi Al-Ghifari adalah potret anak muda Muslim yang lengkap: alim, cendekia, aktif, komunikatif, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya. Dalam usianya yang masih muda, ia telah berkiprah di banyak ruang: pesantren, akademik, jurnalistik, dakwah, organisasi, hingga komunitas. Ia bukan hanya menjadi contoh pemuda yang produktif dan berpikir luas, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tetap berpegang teguh pada ilmu, iman, dan amal.
Selasa, 04 Januari 2022
Minggu, 05 Mei 2019
Pondok Pesantren Al-banniyah At-Tijanniyah
Senin, 11 Januari 2016
Wisata Curug Nyalangkadar Bandung Barat Rajamandala
Wisata Curug Nyalangkadar Bandung Barat (Rajamandala) Jawa Barat
Mitos & Sejarah Curug nyalangkadar Rajamandala
Seiring bertambahnya Pengunjung, berusaha memperluas akses jalan, diharapkan MobiL dapat masuk sampai ke tempat Parkir, Akan disediakan tempat biLas untuk Pengunjung yang Kecehan.
Ancer-ancer Curug Agung Nyalangkadar Rajamandala
Dari Pertigaan arah ke saguling ke utara ±3km ikuti saja jalurnya terus sambil lihat sebelah kiri JaLan ada Gapura yang memberi tanda Keberadaan Curug tersebut.
Rabu, 15 Juli 2015
Sejarah Rajamandala Kecamatan cipatat Kabupaten Bandung Barat
RAJAMANDALA adalah kota kecil di kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, Jabar. Daerah ini memang tidak seistimewa kota-kota lain di Bandung barat, namun mau tidak mau kota inilah salah satu pintu gerbang Kabupaten Bandung Barat
Melalui Rajamanda-lah kita akan memasuki Kabupaten Bandung Barat, begitu juga bila kita akan menuju ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kondisi itulah yang membuat Rajamandala sebuah kota yang dapat dibilang strategis.
Tentunya penataan serta pembangunan di kota kecamatan ini akan memberikan citra yang positif terhadap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, juga Propinsi Jawa Barat.
Tidak bisa dipungkiri keberadaan Rajamandala telah dikenal sejak lama. Apalagi ketika dibangunnya jembatan tol yang melintasi sungai Citarum menghubungkan Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur.
Pada waktu itu, Rajamandala menjadi pusat perhatian jutaan mata di seluruh Indonesia tatkala Presiden meresmikan jembatan tol yang terpanjang dan termodern di Jawa Barat.
Keterkenalan Rajamandala juga terdorong dengan dibangunnya proyek raksasa berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling. Yang sampai saat ini bermanfaat sebagai stok ribuan watt tenaga listrik untuk kepentingan manusia.
Bukan itu saja, potensi di wilayah kecamatan Cipatat yang terkonsentrasi di Rajamandala memiliki berbagai potensi yang belum mendapat sentuhan investor.
Diantaranya, obyek wisata pemandian air panas di desa Rajamandala kulon, Gua Sangiang tikoro, sangiang Kenit. Gua Sangiang Poek yang berada di bantaran Sungai Citarum, Curug Jawa serta kawasan perkebunan Coklat PTP XII yang menghijau di sela-sela pegunungan dan adanya pusat latihan TNI yang lebih dikenal dengan lapang tembak.
Selain itu, daerah Rajamandala atau wilayah kecamatan Cipatat dalam perkembangannya banyak dijadikan sebagai daerah penyangga dan peristirahatan bagi penduduk dari kota kembang bandung dan Cimahi. Mereka sengaja memilih pindah ke daerah ini, karena tidak terlalu jauh dari tempat mereka bekerja.
Maka tidak heran bila perkembangannya lebih ditandai dengan pembangunan perumahan dibanding sektor perindutrian.
Perkembangan yang lainnya, Rajamandala sebagai daerah lintasan jalan protokol yang menghubungkan Kota Provinsi Jawa Barat dengan kota lainnya termasuk Ibukota RI, Jakarta. Mendorong semakin banyaknyapara pedagang yang membuka usahanya di pinggir jalan di sepanjang jalur Rajamandala, Cipatat, Cibogo sampai Ciburuy kecamatan Padalarang.
Usaha yang dilaksanakan sangat bervariasi, mulai dari rumah makan, kios-kios cinderamata, sampai pada kios jajan khas. Misalnya saja peuyeum bandung, ubi bakar, air kelapa muda dan kios-kios buah-buahan khas daerah untuk oleh-oleh maupun untuk dinikmati para pengguna jalan ketika beristirahan melepas lelahsebelum melanjutkan perjalanannya.
Bahkan tidak ketinggalan ada yang sengaja membuka pasilitas hiburan, seperti sanggar jaipongan dan tempat karaoke.
Berkembangnya daerah ini sebagai daerah peristirahatan, didorong dengan keadaan alam dan keasriannya yang cukup baik. Namun dibalik keasriannya juga tersimpan kesan daerah itu sebagai daerah yang masih tertinggal dalam gerak pembangunan secara umum dari kecamatan tetangganya.
"Memang dalam segi yang lain terlihat adanya kemajuan, namun bila melihat secara keseluruhan pembangunan yang mampu memberdayakan masyarakat masih tertinggal dari daerah lain," ujar Drs Pramajati salah seorang tokoh pemuda Kecamatan Cipatat di Rajamandala.
Disamping itu, dengan tumbuh berkembangnya daerah itu sebagai kawasan peristirahatan, juga masih diwarnai oleh berdirinya warung remang-remang yang sampai saat ini belum mampu diatasi oleh pihak pemerintahan baik kecamatan maupun Kabupaten. Padahal bila melihat visi Kabupaten Bandung untuk menciptakan masyarakat Bandung yang religius sudah sepantasnya ada tindakan yang tegas dan berkesinambungan. "Memang sampai saat ini warung remang - remang masih ada, hanya sekarang tidak terlalu banyak karena sering dirajia," ujar Pramajati membenarkan.
Masih adanya wareng menimbulkan perasaan prihatin dan sekaligus merasa risi. Dikalangan masyarakatpun mengakui adanya perasaan minder bila mengaku penduduk Rajamandala atau Cipatat, karena terkesan kurang menyenangkan.
Padahal pemilik wareng serta penghuninya berasal dari daerah luar. Oleh karena itu, mereka mengharap adanya kerja keras dari aparat yang terkait untuk melarang dan sekaligus merajia kegiatan yang di laksanakan di wareng tersebut. "ya sebaiknya terus dipantau dan dirajia agar bersih dari warung remang-remang," jelas Pramajati.
Penduduk setempat sendiri dikenal sangat religius, terbukti dengan banyaknya pondok pesantren, majlis taklim, yang tersebar di setiap kampung di kecamatan Cipatat. Bahkan di Rajamandala terdapat dua sekolah yang afiliasinya di bidang keagamaan seperti Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang cukup diakui eksistensinya oleh masyarakat.
Permasalahan lain yang masih dihadapi masyarakat, belum memadainya sarana pembelanjaan bagi masyarakat. Keberadaan pasar inpres Rajamandala-pun yang berlokasi pada pertigaan jalur jalan Jakarta Bandung dengan jalur jalan menuju PLTA Saguling terkesan kumuh.
Akibatnya para pembeli enggan untuk berbelanja di pasar tersebut. Hal itu pula yang mendorong para pedagang untuk tetap berjualan di jalan protokol sebagai PKL(Pedagang Kaki Lima).
Mereka lebih memilih menantang bahaya dengan menggelar dagangannya dipinggir jalur jalan protokol ketimbang menempati kios di pasar inpres.
Padahal akibat perbuatannya selain berbahaya bagi dirinya, juga mengganggu pengguna jalan. Kesemrautan dan kemacetan senantiasa terjadi akibat para pembeli dan pedang tumpah ke jalan.
"Seharusnya pemkab Bandung sudah mulai membenahi kecamatan Cipatat, terutama masalah pasar tumpah yang selama ini seolah tak terpikirkan," ungkap Harun (41) tokoh masyarakat Rajamandala, seraya menjelaskan daerah Rajamandala bisa dibilang daerah yang berpeluang untuk dijadikan sebuah kota yang produktif.
Hal itu didasarkan letaknya yang bisa dijangkau dari beberapa kecamatan yang berdekatan. Dia juga mengatakan bila di Rajamandala ada sebuah tempat perbelanjaan yang tergolong baik, maka masyarakat yang berada di kecamatan Cipeundeuy, Cipongkor dan Batujajar akan lebih dekat berbelanja di Rajamandala.
"Yang belanja ke Rajamandala bukan saja penduduk Cipatat melainkan dari kecamatan Cipeudeuy, Cipongkor, Saguling dan masyarakat kecamatan Batujajar yang berada di wilayah genangan Saguling," katanya.
Sebenarnya pihak desa dan Kecamatan Cipatat melalui ketertiban telah melakukan berbagai upaya dalam menertibkan para PKL. Namun hasilnya masih nihil, karena sementara ini PKL tetap berjualan di pinggir jalan protokol."Kami terus melaksanakan imbauan terhadap PKL, yah hasilnya masih sama seperti sekarang, tapi bila ada pasar yang lebih luas dan baik mungkin bisa diarahkan," kata kepala Desa Rajamandala kulon, Yayu W kepada Pelita






