Namun hingga berita ini diturunkan, tidak ada satu pun tanggapan dari pihak Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Hening. Seolah tak ada apa-apa. Seolah mereka yang hidup di bawah ancaman kabel bertegangan tinggi itu bukan bagian dari rakyat yang harus dilindungi.
“Kami sudah mengadu ke DPRD. Sekarang tinggal menunggu itikad baik Pak Bupati. Tapi kalau surat ini terus diabaikan, kami akan datang langsung ke kantornya. Jangan salahkan warga jika akhirnya bicara dengan caranya sendiri,” tegas Ketua Forum, Suhendar.
Warga Cipatat tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka menuntut hak yang ditunda selama hampir empat dekade. Rumah mereka dilintasi kabel raksasa yang bisa merenggut nyawa kapan saja, tapi negara terus diam, pemimpin terus sibuk, dan kompensasi tak pernah datang.
Forum menyebutkan, jika hingga waktu yang wajar tidak ada respon, maka langkah berikutnya adalah menghadirkan suara rakyat langsung di depan pintu kekuasaan. Forum siap turun dan membawa kenyataan pahit itu ke halaman kantor bupati.
“Kami datang dengan sopan. Kami mengirim surat. Tapi jangan anggap kesopanan kami sebagai kelemahan. Jika keadilan tidak dijemput, maka kami akan datang menjemputnya sendiri,” tambah Suhendar.
Bandung Barat butuh pemimpin yang mau membuka pintu dialog. Bukan menutup mata di balik meja kebijakan. Warga tidak akan diam lagi. Karena diamnya penguasa adalah awal dari perlawanan rakyat.