Rabu, 02 Juli 2025

Pak Bupati, Warga Cipatat Akan Datang Jika Surat Tak Juga Dibaca


Bandung Barat – Sudah cukup! Setelah 39 tahun hidup di bawah bayang-bayang SUTET tanpa kompensasi, warga Cipatat akhirnya angkat suara. Pada Rabu, 4 Juni 2025 pukul 10.38 WIB, Forum Warga Terdampak SUTET secara resmi mengirimkan surat permohonan audiensi kepada Bupati Bandung Barat, Bapak Jeje Ritchie Ismail. Surat itu dikirim bukan sekadar formalitas—tetapi jeritan panjang dari rakyat kecil yang selama ini ditelantarkan.

Namun hingga berita ini diturunkan, tidak ada satu pun tanggapan dari pihak Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Hening. Seolah tak ada apa-apa. Seolah mereka yang hidup di bawah ancaman kabel bertegangan tinggi itu bukan bagian dari rakyat yang harus dilindungi.

 “Kami sudah mengadu ke DPRD. Sekarang tinggal menunggu itikad baik Pak Bupati. Tapi kalau surat ini terus diabaikan, kami akan datang langsung ke kantornya. Jangan salahkan warga jika akhirnya bicara dengan caranya sendiri,” tegas Ketua Forum, Suhendar.

Warga Cipatat tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka menuntut hak yang ditunda selama hampir empat dekade. Rumah mereka dilintasi kabel raksasa yang bisa merenggut nyawa kapan saja, tapi negara terus diam, pemimpin terus sibuk, dan kompensasi tak pernah datang.

Forum menyebutkan, jika hingga waktu yang wajar tidak ada respon, maka langkah berikutnya adalah menghadirkan suara rakyat langsung di depan pintu kekuasaan. Forum siap turun dan membawa kenyataan pahit itu ke halaman kantor bupati.

 “Kami datang dengan sopan. Kami mengirim surat. Tapi jangan anggap kesopanan kami sebagai kelemahan. Jika keadilan tidak dijemput, maka kami akan datang menjemputnya sendiri,” tambah Suhendar.

Bandung Barat butuh pemimpin yang mau membuka pintu dialog. Bukan menutup mata di balik meja kebijakan. Warga tidak akan diam lagi. Karena diamnya penguasa adalah awal dari perlawanan rakyat.

Minggu, 08 Juni 2025

MOH YUZIANDI Al GHIFARI

 

Moh Yuziandi

Lahir di Bandung, 8 Februari 1994

Moh Yuziandi Al-Ghifari adalah sosok muda inspiratif asal Kabupaten Bandung Barat yang dikenal sebagai jurnalis independen, peneliti kajian Islam, aktivis organisasi, penceramah Jumat, serta tokoh muda yang aktif dalam kegiatan sosial dan komunitas. Ia merupakan pribadi yang menggabungkan intelektualitas, spiritualitas, dan kepedulian sosial dalam kiprah hidupnya.

🌿 Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir dari keluarga pesantren pada 8 Februari 1994 di Bandung, Moh Yuziandi menghabiskan masa kecil dan remajanya di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat. Pendidikan dasarnya ia tempuh di SDN Rama 4 Rajamandala, lalu melanjutkan ke MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala untuk pendidikan menengah pertama, dan Madrasah Aliyah Rajamandala untuk tingkat atas.

Selepas itu, ia menimba ilmu di Universitas Islam Nusantara (UNINUS), tempat ia menyelesaikan studi sarjana (S1) dan magister (S2) dalam bidang studi keislaman. Kampus ini menjadi medan penting pembentukan intelektual dan spiritualnya, serta tempat awal dirinya bergelut dengan dunia literasi, organisasi, dan kajian pemikiran Islam kontemporer.

🕌 Akar Pesantren yang Kuat

Sebagai anak dari keluarga pesantren, Moh Yuziandi hidup dalam suasana religius yang kuat. Keluarganya mengelola dua pesantren:

  • Pondok Pesantren Albanniyah at-Tijaniyah di Kabupaten Bandung Barat
  • Pondok Pesantren Asyrofuddin di Kabupaten Sumedang

Dua lembaga ini bukan hanya pusat pendidikan keislaman, tapi juga menjadi tempat Yuziandi tumbuh, belajar, dan mulai berdakwah. Nilai-nilai sufistik dan ajaran tarekat pun mewarnai cara pandangnya yang moderat dan menyeluruh terhadap Islam dan masyarakat.


📰 Jurnalis dan Penulis yang Kritis

Sebagai jurnalis independen, Moh Yuziandi telah menulis ratusan artikel dan opini yang tersebar di berbagai media online dan kanal sosial. Ia kerap mengangkat isu-isu keumatan, sosial, dan budaya dengan gaya penulisan yang tajam namun tetap santun. Ia tidak hanya menulis dari balik meja, tetapi juga aktif turun ke lapangan, mewawancarai tokoh, menyelami persoalan masyarakat, dan menyuarakan kebenaran melalui tulisan.

Banyak pihak menjadikan tulisannya sebagai rujukan, karena ia dikenal berani, objektif, dan jernih dalam mengulas berbagai persoalan. Dalam dunia jurnalistik lokal dan nasional, ia dikenal sebagai salah satu penulis muda yang idealis, berintegritas, dan menjunjung tinggi etika dakwah bil-qalam (dakwah lewat tulisan).

🗣️ Penceramah Jumat yang Dicari dan Diperhatikan Media

Moh Yuziandi juga dikenal sebagai penceramah Jumat yang aktif mengisi khutbah di berbagai masjid besar di wilayah Bandung Barat dan sekitarnya. Gaya khutbahnya khas: mengangkat tema-tema aktual, menyentuh, membangun semangat jamaah, dan disampaikan dengan bahasa yang lugas namun dalam.

Khutbah-khutbahnya seringkali memadukan kearifan lokal, nilai-nilai Islam moderat, serta ajakan reflektif terhadap kondisi sosial saat ini. Tak heran, kehadirannya sebagai khatib Jumat mulai banyak mendapat perhatian, bahkan beberapa kali diliput oleh media lokal sebagai contoh penceramah muda yang memiliki kemampuan narasi yang kuat dan subtansi keilmuan yang tajam.

Jamaah dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh, pejabat lokal, hingga pemuda masjid, mengapresiasi pendekatan dakwahnya yang tidak menghakimi, melainkan mengajak berpikir, merenung, dan bertindak dengan kesadaran sosial.

🤝 Aktivis Organisasi dan Komunitas

Sejak mahasiswa, Yuziandi dikenal aktif dalam berbagai organisasi:

  • PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
  • HIMA (Himpunan Mahasiswa)
  • SEMA (Senat Mahasiswa)

Di berbagai wadah tersebut, ia dikenal sebagai pemimpin muda yang vokal, cerdas, dan mampu menjembatani perbedaan. Tak hanya dalam dunia aktivisme kampus, ia juga merupakan pendiri komunitas otomotif:

- Yamaha NMAX Club Indonesia – Kabupaten Bandung Barat

- Yamaha XMAX Club – Kabupaten Bandung Barat

Langkahnya ini merupakan upaya untuk mendekatkan dakwah dan nilai-nilai kebersamaan kepada anak muda lewat hobi dan komunitas yang mereka cintai.


📌 Kiprah Sosial dan Perjuangan Masyarakat

Moh Yuziandi juga terlibat dalam berbagai gerakan sosial masyarakat. Ia dikenal sebagai figur muda yang berani menyuarakan suara warga, terutama dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hak publik, lingkungan, dan pembangunan daerah. Ia kerap tampil sebagai narasumber dalam forum-forum warga, pendamping lapangan, dan penyalur aspirasi masyarakat.

Dengan latar belakang pesantren, kemampuan menulis, dan keterampilan komunikasi yang baik, ia dipercaya oleh banyak pihak sebagai penghubung antara masyarakat dan pemangku kebijakan.

Penutup

Moh Yuziandi Al-Ghifari adalah potret anak muda Muslim yang lengkap: alim, cendekia, aktif, komunikatif, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya. Dalam usianya yang masih muda, ia telah berkiprah di banyak ruang: pesantren, akademik, jurnalistik, dakwah, organisasi, hingga komunitas. Ia bukan hanya menjadi contoh pemuda yang produktif dan berpikir luas, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tetap berpegang teguh pada ilmu, iman, dan amal.